Ditemukan Ada Sumur Tua di Desa Bilalang 1 Kotamobagu

PortalBMR, KOTAMOBAGU – Kota Kotamobagu ternyata memiliki sejumlah situs sejarah yang perlu ditelusuri. Diantaranya, sumur tua yang terletak di desa Bilalang I Kecamatan Kotamobagu Utara.

Sumur dengan kedalaman sekira 9 meter itu, menurut warga setempat, merupakan peninggalan zaman kolonial Belanda. Kondisi sumur terlihat utuh dan di dalamnya masih ada air. Selain itu, tidak jauh dari lokasi sumur ditemukan juga bongkahan bekas bangunan rumah Walker Dunnebier.

“Sumur ini dibangun masih zaman Belanda, milik pendeta Walker Dunnebier,” kata Yahya Sugeha, pemilik kebun yang tidak jauh dari lokasi sumur, Senin (10/2/2020) sore tadi.

Kabid Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotamobagu Thelma Ololah mengaku bahwa situs sejarah tersebut sudah inventarisir oleh pihaknya beberapa waktu lalu.

“Kita sudah survey akhir tahun lalu sumur peninggalan kolonial belanda ini bersama-sama badan arkeologi wilayah Suluttenggo hingga bekas bangunan yang ada di sebelah atas sumur,” ujar Thelma.

Terpisah, Budawayan Bolaang Mongondow Chairun Mokoginta, membenarkan sumur tersebut milik dari pendeta dan juga seorang peneliti asal Belanda, Walker Dunnebier.

“Selain pendeta, Ia juga seorang antropolog yang datang ke Kotamobagu sekitar Tahun 1930-an sampai 1950-an. Selain sumur ada juga bekas bangunan rumah Pendeta Dunnebier di lokasi yang saat ini sudah menjadi lahan perkebunan warga,” kata Mokoginta, saat dikonfirmasi.

Menurutnya, alasan Dunnebier menetap diwilayah tersebut, disebabkan untuk belajar memahami adat istiadat dan kebudayaan Bolaang Mongondow. Dunnebier mempelajarinya melalui salah satu tokoh adat Bolaang Mongondow yang cukup dikenal di masa itu. Yakni Abo Inel Mokoginta warga Desa Bintau’ Kecamatan Passi.

“Jadi ada misi yang dilakukan oleh Dunnebier. Sehingga ia memilih menetap di tempat itu, agar lebih dekat dengan tokoh adat. Ia belajar sekaligus melakukan penelitian tentang kultur masyarakat lokal, termasuk bahasa Mongondow. Agar misi dalam melakukan penjajahan dan penyebaran agama pada masa itu berjalan dengan baik,” tuturnya.

Lanjut Mokoginta, hal itu tidak berlangsung lama, karena pada akhirnya Dunnebier berpindah tempat ke lokasi Ikuna, yang saat ini berada diantara Desa Pangian dan Desa Poopo Kecamatan Passi Timur.

“Dunnebier pindah ke Ikuna, hingga akhirnya ia kembali ke Negeranya pada tahun 1950an sebelum dihapuskannya system Pemerintahan Kerajaan,” tutupnya.

Komentar Facebook

Komentar

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi *

*

x

Berita Lainnya

RSUD Kotamobagu RSU Monompia Terima APD Dari Alumni SMAN 1 Kotamobagu

PortalBMR, KOTAMOBAGU – Kepedulian terhadap para tenaga medis untuk menangani ...